Selasa, 18 Agustus 2009

TOKOH



CHE vs GIE


Ernesto 'Che' Guevara merupakan salah satu tokoh muda dari Kuba yang melakukan perlawanan terhadap sesuatu yang dianggap tidak adil.Perjuangannya bergaung melintasi batas geografis negara.

Che menjadi simbol perlawanan kaum muda.Sebagai ikon,wajahnya tertampang di t-shirt,poster hingga pin. Buku-buku tentang dirinya dicetak ulang. Salamnya kepada Castro saat meninggalkan Kuba, 'Hasta la victoria siempre' menjelma jadi salam heroik di antara kaum muda.

Kisah perjalannya mengelilingi Amerika Selatan diabadikan dalam film, La Diaros Motocicleta atau The Motorcicle Diaries.Film ini mengangkat sebagian kecil kisah hidup Che bersama sahabatnya Alberto Granado.

Petualangan dua anak muda naif ini,berbuntut panjang.Awalnya hanya sekedar senang-senang,berpetualang menggunakan motor tua untuk merayakan ulang tahun Granado ke-30. Namun,memberi pengaruh besar pada sisa kehidupan Che, mahasiswa kedokteran ganteng,anak seorang bangsawan yang banyak digandrungi perempuan.Hatinya terketuk ketika menjumpai kemiskinan dan kesulitan hidup. Jiwanya yang peka tergores pada kontradiksi kehidupan yang ditemuinya sepanjang perjalanan.

Che dan Granado berpisah di Venezuela.Granado memilih bekerja, sedangkan Che terus bergulat dengan kegelisahan sekaligus pencerahan diri yang dijumpai sepanjang perjalannya mengelilingi Amerika Selatan."Begitu banyak ketidakadilan yang saya lihat.Saya berbeda dari yang kemarin," tulisnya.

Akhirnya, Che memutuskan bergabung dengan gerilyawan Kuba melawan rezim Batistuta. Dia
menjadi salah satu saksi sejarah kemenangan revolusi Kuba.
Che mati muda, terbunuh di Bolivia pada usianya yang belum genap 40 tahun.Dan dia tetap menjadi ikon dan inspirasi anak muda seantero dunia sepanjang masa.
#

Soe Hok Gie tidak setenar Che.Dalam keseharian,dia juga berbeda.Datang dari keluarga sederhana dengan gaya hidup yang sederhana pula.Sebelum catatan hariannya dijadikan film,barangkali namanya hanya bergaung disebagian komunitas anak muda dan generasi tua.

Meski demikian,kisah dua orang yang mati muea ini benang merahnya.Soe Hok Gie juga memiliki kepekaan sosial tinggi. Dia gelisah menghadapi keadaan di sekelilingnya.Sikap kritis dan kekuatan karakternya terlihat sejak muda.Saat ada anjuran mengganti nama Cina dengan nama Indonesia,Soe Hok Gie menolak.Argumennya,nasionalisme tidak diukur dari nama.

Sejak kecil Gie suka membaca.Bersama kakaknya,terbiasa melalap bacaan sastra dan filsafat.Dia berkembang menjadi remaja sensitif.
Disalah satu catatannya,mencurahkan perasaannya melihat seseoran yang terpaksa makan kulit mangga karena kelaparan.Dan ironisnya,kejadian tersebut tak jauh dari istana negara.
Kekritisannya, juga dituangkan dalam tulisan yang dimuat diberbagai media cetak.Ia juga dikenal sebagai seorang pecinta alam.

Dalam pergulatan batinnya yang sering dialaminya,Gie sering kali mengutip pernyataan dari seorang filsuf.Dalam buku hariannya dia menulis, beruntunglah orang yang di karuniai mati muda.Dan akhirnya,pada usia satu hari menjelang ulang tahunnya yang ke-27,Gie tewas tersedak gas beracun di Gunung Semeru,16 Desember 1969.

Che dan Gie memang berbeda.Tapi keduanya berangkat dari kepekaan terhadap nasib sesama.